Assalwa Community

Premium WordPress Themes

Search

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Putri Rezeki Rahayu, Berhasil Menyabet Gelar Juara 1 Mengarang Cerpen

 

Halo sahabat Salwa sekalian!
Masih ingetkan Pemimpin Redaksi (Pimred) Majalah Assalwa yang perdana? Iya, Ukhti Putri Rezeki Rahayu.
Ia sekarang beroleh prestasi yang luar biasa, ketekunannya belajar dan memimpin majalah ini berbuah manis.
Dengan menyabet gelar juara Bilik Sastra VOI 2014, Cerpennya berjudul "Menggapai Cahaya" berhasil menyisihkan 44 finalis lainnya. 
Maka dari itu, sahabat Salwa! khususnya anggota KIJ (kelompok karya ilmiah dan jurnalistik) Assalwa dan Thalibah Gontor Putri 5 Kediri untuk terus belajar menulis seperti ukhti Putri, 
dan 'AssalwA' adalah tempat yang tepat untuk berekspresi.

Ini dia petikan beritanya, selamat membaca!
Putri Rezeki Rahayu, Usaha Lebih dari Biasanya
Friday, 07 November 2014, 11:00 WIB
Usaha yang terbaik tidak akan pernah sia-sia. Ibarat menanam pohon, belum tentu ia akan berbuah, namun pasti ia akan tumbuh. Usaha dan perjuangan lebih dari biasanyalah yang membawa Muslimah berusia 22 tahun, Putri Rezeki Rahayu, menyabet Juara I Program Bilik Sastra Voice of Indonesia (VOI) Award 2014.

Putri, begitu ia akrab disapa, berhasil menyisihkan 44 karya lainnya dalam ajang lomba cerpen bagi anak bangsa yang sedang berkelana di luar negeri. Putri sendiri mengaku ia tidak menyangka akan menjadi yang terbaik dari lomba yang digelar oleh Radio Republik Indonesia (RRI) ini.

"Usaha, lakukan lebih dari yang biasa," begitu dara kelahiran Indramayu ini membagi motonya dalam hidup. Bagi Putri menulis kadang sesuatu yang menjemukan. Ia juga merasa tulisannya sama seperti orang kebanyakan. Namun, usaha yang lebih yang menjadikan prestasi menulis berdatangan.

Mahasiswi Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, ini bercerita bahwa awalnya berat untuk menggerakkan tangannya menulis. Ia merasa menulis bukan hanya menjentikkan jari merangkai huruf. Namun, harus ada pesan yang dibawa dalam tulisan. Beban menyampaikan pesan itulah yang pada mulanya membuatnya susah menyelesaikan tulisan. "Tulisan merupakan penyampaian pesan yang indah, tapi jika tidak dimengerti maka akan percuma saja," ujar wanita yang mengambil jurusan Ushuluddin di Al Azhar ini. Namun, dengan usaha yang lebih keras dari biasanya, Putri menjadikan kertas sebagai arenanya untuk menari-nari dengan tulisan.

Muslimah yang tiba di Kairo pada 2012 lalu ini mengakui, cerpennya yang menyabet gelar juara Bilik Sastra VOI 2014 menggambarkan kegigihannya dalam berjuang. Cerpen berjudul "Menggapai Cahaya" ini mengisahkan perjuangan Putri berjibaku di Bumi Kinanah. Karakter alter ego yang diciptakannya di cerpen membuat tulisannya semakin hidup.

Dalam cerpen itu Putri menceritakan betapa beratnya saat awal-awal ia menginjakkan kaki ke Mesir. Bahasa dan tata pergaulan yang berbeda membuat Putri kesulitan beradaptasi. Hidupnya seakan berputar 180 derajat dibandingnya saat di Tanah Air. Yang menarik, Putri mengaku justru kesulitan dengan bahasa Arab. Padahal, ia merupakan alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor yang notabene membekali santrinya dengan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan. "Bahasa yang menghambat saya melangkah lebih cepat di Kairo. Suasanya serba baru yang membuat saya kesulitan," ujar Putri mengisahkan cerpen sekaligus jalan hidupnya.

Namun, cita-citalah yang menuntunnya terus berupaya dan berusaha apa saja yang bisa dilakukan. Terus memperdalam bahasa Arab, bahkan saat liburan perdananya, ia habiskan dengan membaca buku-buku berbahasa Arab. Setiap sudut ruangan ia tempeli bahasa Arab. "Ya, jadi bahasa yang dicintai. Meskipun, masih belum fasih seperti lainnya. Akan tetap berusaha sampai kapan pun. Sebelumnya berhasil dan mengapa sekarang tidak," katanya.

Wanita yang aktif sebagai koresponden majalah online Ikanan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor cabang Kairo ini menceritakan ia juga menghadapi hal yang sama saat baru pertama masuk ke Gontor.

"Kesulitan yang dialami dibarengi dengan rasa down ketika masuk Gontor," ujarnya Sejak kelas IV SD hingga jejak SMP, Putri termasuk bintang kelas di sekolahnya. Ia juga dikenal dengan seabrek aktivitas ekstrakurikuler.

Namun, saat masuk Gontor dan ditempatkan sebagai calon pelajar, muncul pertanyaan dalam benaknya. Mengapa berstatus calon, padahal ia merasa sebagai siswa yang berprestasi? Putri hanya menjawab pertanyaannya itu dengan usaha. Ia yakin pasti ada hikmah untuk menikmati proses belajar dari posisi itu.

Hari demi hari, kegiatan demi kegiatan berlalu, dan tak terasa sudah di ujung semester pertama. Sosialisasi dan adaptasi sudah bisa dilakoninya. Namun, tanya besar datang kembali ketika Putri ditempatkan di Gontor Putri 5. "Saya kembali lagi bertanya-tanya, mengapa di lima, padahal kan saya ingin di Gontor Putri pusat. Saat itu, saya merasa jatuh lagi," kata penyuka kartun ini.

Kembali lagi, ia yakinkan diri untuk terus berusaha. Namun, kini kesulitan datang kembali, yakni semua kegiatan pendidikan harus menggunakan bahasa Arab. Sesuatu yang tidak pernah Putri pelajari sebelumnya. Ia hanya pernah diikutsertakan dalam pengajian oleh orang tuanya, namun tak berbahasa Arab.

"Kesulitan bahasa yang membuat saya sulit meraih bintang kelas. Tapi, karena motivasi orang tua, kalimat ‘belajar, belajar, dan usaha, usaha’ saya tanamkan dalam-dalam. Melihat mereka yang bisa bahasa Arab, tebersit mengapa saya tidak bisa, yang penting usaha lebih dari biasanya dan dari siapa pun," ujarnya.

Usahanya berakhir manis, Putri berhasil meraih bintang kelas. Bahkan, pada saat yudisium Pondok Pesantren Gontor angkatannya, Putri Rezeki Rahayu merupakan nama yang pertama kali disebutkan. Ini merupakan kebahagiaan dan kebanggaan untuknya dan orang tuanya. Kemudian, ia memutuskan untuk masuk Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. "Sebenarnya, saya sudah mencita-citakan kuliah di luar negeri sejak kecil, ketika melihat saudara baru pulang dari Al Azhar," ujarnya.

Awalnya ia masuk Al Azhar tanpa bantuan beasiswa, namun sejak semester dua hingga saat ini ia terdafar dalam salah satu penerima beasiswa dari Kuwait. "Alhamdulillah, sampai sekarang masih bisa mempertahankan beasiswa itu karena aturannya dilihat dari sistem penilaian," katanya.

Ia mengungkapkan tak menyangka menjadi pemenang dari program Bilik Sastra itu. Justru, ia lupa pernah mengirimkan tulisakn ke RRI. Kejutan diperolehnya awal bulan lalu, ketika ia  diberitahukan karya tulisannya berhasil menempati posisi pertama dan menyisihkan 44 karya tulisan lainnya.

"Jika ada kesempatan dan rezeki, saya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Namun, di mana saya akan melanjutkan pendidikan, tergantung dari rezeki dari Allah," ujar wanita yang bercita-cita sebagai novelis ini.

ed: hafidz muftisany

**********
Biodata

Nama Lengkap : Putri Rezeki Rahayu
TTL              : Indramayu, 29 Agustus 1992
Hobi             : Fotografi, Baca Komik, Nonton Kartun
Nama Ayah        : Sugeng
Nama Ibu         : Anisa
Pendidikan   :

- TK Darun Nahwi
- SDN Singajaya III
- SMPN 2 SINDANG
- Pondok Pesantren Darussalam  Gontor Putri 5
- Universitas Al- Azhar, Kairo, Mesir

Organisasi:
- Wakil Ketua OSIS SMPN 2 Sindang
- Ketua OPPM Gontor Putri 5
- Pemimpin Redaksi Majalah As Salwa Gontor Putri 5
- Pemimpin Umum Majalah IQRA’

Prestasi :
- Jauara II Lomba Busana Muslim
- Juara I LKBB Paskibra Se- Kab Indramayu
- Juara 1 Bilik Sastra Voice Of Indonesia (VOI) Award 2014

ILA Angkatan II
Bekali Pemuda dengan Ideologi Alquran

Sumber: Republika Online

Senin, 22 September 2014

Berikanku Cahaya-Mu


BERIKANKU CAHAYA –MU
 Oleh: Shana Rosemary

“Siapa yang menyuruhmu membaca Al-qur’an ?” teriak pak herman, papa Maya.
“pa. ini kewajiban umat islam pa” kenapa papa melarang?” tanyanya bingung.
“dengar, sudah kubilang beberapa kali sama kamu, aku tidak suka dengan islam, kalau kamu masih mau tinggal dirumah ini, masuklah ke agamaku ! “
“Apa !!! , papa, terserah sama maya, kenapa papa protes sama maya ? Bukannya papa sama mama menikah beda agama ?”
“anak kurang ajar kamu ! “ucap Pak Herman, Seraya Ingin menampar maya
“Mas……!!!. Jangan lakukan itu ! “cegah Bu Ratna seraya memeluk maya, “Mas, kalau kamu memang tidak suka, kami akan pergi !”
“mama ini rumah kita?” Sahyut maya terkejut, “maya ! sudah jangan banyak bicara !” bentak Bu Ratna.
“Dengar, lebih baik kamu ikuti aku dari dulu pasti kita akan tenang!” kata pak Herman.
“Mas…. Cukup ! aku tidak tahan lebih baik kita bercerai !
“Jangan Mas! Aku tidak suka dengan perceraian, Allah akan marah dengan itu.”
“ Aaaaah……. Diam kamu, pergi dari sini !!!! pergi !!!! “ suruh pak Herman marah.
Segera Bu Ratna dan maya membereskan barang-barang mereka dan pergi dari rumah itu.
“ma, kita mau kemana?”Tanya maya sambil menangis. “kita ke rumah yang dulu dibandung saja ya ? jawab Bu Ratna menangis.
********************************************************
 “maya, kamu yakin kuliah disana ?”tanya Bu Ratna  yang kini usianya telah memasuki usia genap 40 tahun,
“ entahlah ma, maya bingung!! Djogja..maya rasa tempat yang cocok”jawabnya.
“Di jogja ? kamu mau kembali ke sana lagi?” Tanya Bu Ratna terkejut dengan jawaban putri semata wayangnya itu.
“Ma, kenapa setiap maya bicara tentang jogja mama selalu terkejut?”
 “mama, mama jujur sama maya, mama belum ceraikan sama papa ?” Tanya maya penasaran.
Spontan ekspresi Bu Ratna berubah. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Ma jawab…..!!! paksa maya.
“nak, mama tidak suka bercerai. Dikeluarga kita tidak pernah ada perceraian jangan sampai mama mengalami itu, mama takut !,” Jelas Bu Ratna hingga menangis perlahan
“ma, kalau mama tidak suka bercerai, mama harus membawa papa ke agama kita!”
“sayang…. ! mama, ……Mama……. Belum bisa!”
“  Kalau mama belum bias kenapa mama menikah dengan  papa?”.
“Maya, pernikahan ini terpaksa, karena sebelum nenek meninggal, nenek meninggalkan banyak hutang dan sebagai bayarannya mama  harus menikah sama papa!” Jelas Bu Ratna kembali.
Maya pun ikut menangis. Derai air mata yang kini menghiasi pagi yang cerah ini, mengisahkan kesedihan dan penderiataan yang dialami bu Ratna.
********************************************************
Beberapa hari kemudian………
Maya memutuskan untuk kuliah di UGM jogja.
Ketika ia berangkat menuju kampusnya, ia melihat sebuah Gereja yang sering di kunjungi Pak Herman. Dan ia terkejut melihat sseorang pria yang  tak salah lagi adalah pak Herman, papanya yang telah lama tak bertemu. Segera ia turun dari taksi dan menghampirinya.
“papa……!!! “panggilnya.
Pak Herman pun membalikkan badannya dan terkejut melihat seorang gadis berkerudung biru yang memanggilnya dengan sebutan”papa”
“maya?” Sebutnya” maya?” kamu maya?”
“Papa ini maya!”
“maya anakku!”.
Maya berlari memeluk pak Herman yang kini Nampak tua.
“maya, mamamu mana ?” Tanya Pak Herman menangis.
“kami tinggal dirumah kontrakan di jogja…” Jawab maya menangis pula.
“uhuk…..uhuk….!” pak herman batuk dan mengeluarkan darah.
“papa kenapa bisa begini?” Tanya maya.
Tiba-tiba pak herman pingsan, maya panik dan meminta pertolongan pada orang yang ada disekitarnya. Dengan segera Pak Herman di bawa ke rumah sakit.
Bu Ratna datang ke rumah sakit dalam keadaan cemas , dan dia memeluk maya kemudian menangis.
Mereka terus berdo’a, memohon pada yang kuasa, agar memberikan keajaiban Nya untuk Pak Herman setelah 3 jam kemudian,,,,,,,,
 “Mungkin anda bisa berbicara dengannya!” kata dokter yang baru keluar dari ruang ICU, mempersilahkan maya dan Bu Ratna melihat keadaan pak Herman.
 “mas….mas….Herman! ini aku Ratna, mas maafkan akua! Aku sudah durhaka padamu” ucap Bu Tatna duduk didekat pak Herman, seraya memegang tangannya.
“tidak Ratna ! aku yang bersalah ! aku tidak mau dengar kamu, maaf! Aku tidak pantas jadi suami yang baik, buat kamu dan aku tidak pantas jadi papa yang baik buat maya” kata Pak Herman lemah dan menangis.
“mas , jangan pikirkan itu!. Pikirkan kondisimu sekarang. Kenapa bisa begini?” Tanya bu ratna sambil mengangis pula.
“mungkin ini hukuman dari tuhan, ketika kalian pergi, aku mencoba untuk membuang kalian pergi, aku mencoba untuk membuang Al-Qur’an yang maya baca waktu itu. Tetapi , tiba-tiba tenggorokanku terasa sakit dan aku terbatuk mengeluarkan darah.
Sejak saat itu aku tidak pernah ke gereja lagi. Setiap ingin ke gereja, hal itu selalu terjadi, dan mungkin ini akhir dari semuanya” jelas pak Herman panjang lebar.
 “Al-Qur’an itu masih kusimpan di lemari pakaian maya . uhu…..uhuh,……!!!!”
“papa, papa tidak usah banyak bicara!” larang maya mulai panic.
“Maya, papa ingin uhuk….uhuk….mengabulkan impianmu”ucap Pak Herman dengan wajah yang sangat pucat.
“maksud papa?” Tanya maya bingung.
“papa ingin masuk islam, demi Allah papa ingin masuk islam” ucap Pak Herman.
Ucapan Pak Herman membuat maya dan bu ratna terharu.
“pa, ikuti maya, Asyhaduanlaailaahaillallah……”
“AsY…….Haduanlaaa………ilaaaa……..ha illallah………
Wa asyhaduanlamuhammadarrosulullah.”
“wa asy…hadu…..anna…muham….madar….rosulullah….maafkanlah semua kesalahanku….”
Berhenti detak jantung pak Herman , tangisan maya dan Bu Ratna tiada habisnya. Namun, Allah membantu mereka untuk menerima semua yang telah terjadi. Pak Herman kini telah beristirahat tenang disana, setelah mengucapakan kaliamt Syahadat!!
********************************************************


Abang Siomay



Abang Siomay
Sihabul Millah
Teng…Teng......
Bel keluar kelas berdering begitu keras membangunkan anak-anak yang tertidur pulas pada pelajaran terakhir.Aku berlari menuju tempat parkir.
“Neyla……tunggu aku,aku gak bawa motor!”
Aduuh siapa sich, ganggu aja padahal aku mau memburu siomay depan Ramayana,bentar lagi tutup.
Ah ternyata Sarah.
“Kemana motor kamu Sarah? tumben lupa bawa motor?”
“Ceritanya panjang, pokoknya anterin aku ke depan Ramayana motornya disana! Cepetan entar Bang Faiz keburu kuliah!”
“OK deh.”
Aku langsung tancap gas,tapi aku bertanya-tanya koq Sarah nyimpen motor depan Ramayana,siapa lagi Bang Faiz??kuliah?”
“Stop,Neyla berhenti depan terop biru situ!!””Seru Sarah.
“He eh…”
Aku makin bingung ketika melihat motor Sarah diparkir di pinggir warungn Bang siomay langgananku.
“Bang Faiz,motor Sarah udah baikan belum? makasih ya Bang udah ngasih bantuan,Sarah pulang dulu,eh Neyla thank’s ya aku duluan. Aku mau ke rumah sakit.”
“Iya..iya…”
Aku bingung sendiri kenapa Sarah kenal dengan tukang siomay langgananku.  Ah,aku tidak peduli.  Seperti biasa ,aku duduk di kursi pojok.  Tapi Bang siomay itu tak pernah menghampiriku padahal sudah sebulan lebih tiap hari aku nongkrong sepulang sekolah,bukan karena siomaynya, tapi karena abangnya.  Abangnya bersih wajahnya bercahaya , jenggotnya 2 lembar Aaaa…beda sekali dengan teman cowokku.  Matanya pun tak pernah jalalatan.  Meskipun tukang siomay tapi bagiku dia bukan sekedar tukang siomay.  Eh siapa tadi namanya? Bang Faiz..ya Bang Faiz..
“pesen apa neng..?,”bang Siomay eh bang Faiz mengagetkanku
“anu bang, eh kok abng gak pernah hafal nama Neyla sih, padahal Neyla tiap hari kesini, abang juga gak pernah tahu pesenan Neyla.  Neyla kan pesan siomay yang sama tiap hari ?,”aku langsung nyerocos begitu saja tanapa kusadari.
“maaf de Neyla, abang lupa, berapa porsi ya ?,”
“satu porsi bang, oh ya bang boleh gak Neyla nanya sesuatu ? tapi dijawab ya !,”
“insya Allah de kalau abang bisa jawab ya dijawab !,”katanya pasti
“abang kok abang kenal sama Sarah ? Sarah kan jarang kesini Bang ?,”
“oh de Sarah ya ? de Neyla temannya ya ? de Sarah itu ade tingkat abang di Merah Putih,”
“jadi abang ikut MP di UNISBA ya ? berarti abang kuliah juga dong ? pantesan abis Dzuhur abang selalu tutup.., bang boleh gak Neyla ikut juga ?,”
“oh boleh, boleh..tapi semua anak-anak MP yang putrid pakai jilbab semua lho !!,”
“gak masalah Bang, Neyla siap !!,”
***
Hari ini aku tampil beda, aku belajar pakai jilabab biar kaya’ Sarah deket ma Bang Faiz. He..he..he..
“neyla kamu cantik banget pakai jilbab, anggun !,”komentar mama saat melihatku mengenakan jilbab baruku.
“iya dong Ma, Neyla kan pengen kaya’ mama juga !,”aku bohongin mama, kalau bukan karena Bang Faiz aku gak akan mau pakai jilabab ini, puanas banget !!
“ma, Neyla pergi dulu ya, mau kerumah Sarah !!,”aku bohong lagi
“hati-hati dijalan sayang,”
“siap deh ma !!,”
Kunaiki motorku sekencang mungkin, aku tak sabar ingin memamerkan jilababku pada bang Faiz.  Terop biru depan Ramayana tinggal sejengkal lagi tapi tiba-tiba sebuah minibus dari arah yang berlawanan melaju kencang dan brak….aku trhempas dan ah..aku tak ingat apa-apa lagi..
***
Tik..tik..tikk…
Bunyi apa itu ? perlahan kubuka mata, ah kenapa aku tak bisa mengangkat kepalaku ?
“Neyla, kau sadar, syukurlah nak ! mama khawatir sekali sama kamu !,”
“ma apa yang terjadi ? mana jilbab Neyla ?,”
“masya Allah, kamu m asih ingat akan jilbab barumu, betapa mulianya kamu nak, kerudungmu terlepas kewarung siomay, sekarang kerudungmu masih sama bang siomay, bang siomaynya masih diluar, mau mama panggilin ?,”
“bang Faiz ! gak ma, gak usah dipanggilin suruh pulang aja ma,”
“neyla abang itu yang telah menolong kamu, kamu harus berterima kasih padanya !!,”
Ya Allah apa yang telah terjadi ? ya Allah ampuni aku, Ya Allah engkau telah menegurku, maafkan aku Ya Allah, engkau telah menegurku, aku menutup auratku bukan karena-Mu ya Rabb tapi karena bang siomay itu, karena bang Faiz..aku malu sama mama yang telah berhusnudzon padaku..ya Allah..ampuni aku..
“Ma, amaafin Neyla, sampaikan salam Naila buat Bang Faiz !,”
“siapa Bang Fiaz ?temannya bang Azizi guru ngajimu ?,”
“bukan, bukan bang Faiz itu bang siomay depan Ramayana, dia mahasiswa UNISBA..,”
“subhanallah..baik sekali pemuda itu..,”
“ma boleh gak Neyla minta sesuatu ?,”
“apa sayang ? katakanlah mungkin mama bisa usahakan, ”
“ma..kalau Neyla sembuh antar Neyla ketoko Busana Musliamah, Neyla pengen menutup aurat Neyla, Neyla juga pengen belajar ngaji lagi ma Bang Aziz, Neyla pemgen ikut pengajian lagi sama mama juga Sarah.. !,”
“Alhamdulillah ya Allah, engkau mengabulkan doaku selama ini, terima kasih ya Allah Kau telah datangkan hidayah-Mu pada putriku..,”mama menitikan air mata.
Aku terharu, akupun larut dalam lara, Allah terima taubatku…
***
Hmm..ku tutup diaryku yang telah usang,ku usap air mataku. Alhamdulillah ya Allah Engkau telah memberiku hidayah, hidayah yang datang lima tahun silam.  Sejak saat itu aku tak pernah melihat lagi terop biru depan Ramayana, hingga suatu ketika saat Bang Faiz datang kepadaku.  Dan kini dia disampingku bersama membaca diary using ini sambil membelai jilbab lebarku. 

 ------------------

Balada Irlandice


Oleh: aNNiSa wIdYANi
“Bu, bolehkab Martha tahu dimana ayah sekarang ?”
Tanya seorang lelaki kepada ibunya.
“untuk apa kamu tahu tentang ayahmu, ibu Cuma berharap kamu akan menjadi pemain biola yang handal kelak, karena bagi ibu, martha adalah cerminan ayah, karena disetiap aliran darahmu, mengalir darah seni di dalamnya.” Tandas ibu.
“Maksud ibu apa ? Martha semakin tidak mengerti? Bu….. sekarang Martha dapat mengerti tentang kehidupan, jadi sekarang ibu dapat menceritakannya pada Martha.” Ibu pun bernapas panjang.
“baiklah……19 th yang lalu, ibu tinggal di polandia bersama nenek kamu, suatu hari ibu menerima sebuah tiket pertunjukan music dari teman ibu yang kebetulan dia diundang langsung oleh pemain biola itu yang kebetulan pula dia adalah temannya, pemain biola itu adalah Martino Fernandes……ayahmu.
Setelah pertunjukan selesai, teman ibu mengajak ibu menuju ke belakang state. Di sanalah pertama kalinya ibu berkenalan dengan ayahmu. Dan sejak pertemuan itu, kami jadi sering bertemu. Hingga akhirnya, satu tahun kemudian ayahmu mengundang ibu untuk sebuah dinner. Dan diakhir dinner itu, ayahmu pun melantunkan sebuah lantunan music denga biolanya. Setelah selesai menggesekkan senar-senar biolanya, diapun berkata.
“ balada irlandice…., ini adalah karya ku untuk yang pertama kali, dan aku pernah berjanji pada diri ku sendiri bahwa aku akan memainkan balada irlandice saat aku kan melamar seseorang .“
Dan benar saja, dia pun melamar ibu 2 hari kemudian. Lalu setahun lebih pun berlalu dan lahirlah kamu. Namun selang beberapa bulan setelah kelahiran kamu, ayahmu jadi jarang dirumah, hingga suatu saat, diapun menghilang untuk selamanya dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang berisi kata “maaf aku tidak dapat lagi menemanimu beserta Martha kecil kita…..” dan sejak saat itu, tbu memutuskan untuk balik ke Indonesia. Dengan merawat kamu sendiri.”
Seketika itu ruangan pun senyap….
“bu…. Sekarang ayah dimana?” Tanya Martha
“hm…entalah, sejak saat itu, ibu ta’ pernah tahu kabar ayahmu, namun kabar terakhir yang ibu terima adalah  dia berada di Indonesia”terang ibu.
“ Apakah Martha pantas untuk membencinya?” Tanya Martha ragu.
“ jangan, karena walau bagaimanapun, dia tetap ayahmu.”
“ Bu. Apakah Martha boleh melantunkan balada irlandice saat penamipilan perdana Martha? Martha pun mula I tertarik dengan lantunan irlandice. Ibu ragu , sejenak ia melihat mata Martha, erdapan keinginan dan kesungguhan disana.
“mungkin kini adalah saatmu untuk menunjukkan lantunan balada irlandice itu pada dunia”. Sedetik kemudian Martha pun membiaskan senyumnya yang menimbulkan lekukan kecil di kedua pipinya.
JJJ
Satu jam lagi pertunjukkan akan segera dimulai, namun terlihat di bangku penonton telah penuh sesak oleh ratusan penonton.
“ Bu….. Martha minta do’anya ya. “
“insya Allah, ibu akan selalu mendo’akan setiap langkahmu.”
Ratusan penonton yang memenuhi tempat itu. Beberapa lantunan music telah di lantunkannya, dan kini inilah yang di tunggu-tunggu oleh penonton, music terakhir yang akan dilantunkannya.
“lagu terakhir ini ku tunjukan kepada seseorang yang ta’  pernah ku kenal, namun aku begitu menyayanginya……”
Lalu balada irlandice pun terlantun , semua mata pun tertuju pada Martha , lagu itu terlantun begitu indah, syahdu, persis ketika seorang Martha Ternandes melantunkannya.
[[[

Setelah pertunjukkan selesai, Martha pun langsung diwawancarai oleh berbagai stasiun itu. Setelah selesai wawancara, seorang lelaki berstelan jas pun menghampirinya dengan tongkat di tangannya.
“maaf, apakah anda Martino d’lucio? “ Martha pun terhenyak seketika, karena selama ini tidak ada yang tahu nama panjangnya kecuali ibunya.
“ iya, e…maaf anda ini siapa? Apakah saya pernah berkenalan dengan anda sebelumnya?” seketika itu lelaki itu pun berkaca-kaca.
“ Maaf….selama ini ayah telah meninggalkanmu dan juga ibumu karena keinginan ayah semata. Saat itu, ayah meninggalkan kalian karena ayah hanya menginginkan ketenaran.”
Martha pun tertunduk.” Kau boleh marah pada ayah, ayah dapat menerimanya.” Tandas ayah, sedetik kemudian Martha pun memeluk ayahnya.
“ Sudahlah, biarkan itu menjadi masa lalu”. Kata Martha bijak, ayahnya pun tersenyum.
“e,….Maaf bolehkah saya meminta sesuatu pada anda?”
“tentu saja, apapun yang kau inginkan insya Allah ayah akan berikan untukmu.”
“ Izinkan Martha memanggil anda dengan sebutan ayah, karena selam ini, saya tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan itu.”
Ayahnya pun hanya dapat mengangguk dan menahan isaknya. Senyum Martha pun menghiasi bola matanya yang biru.
“Ayah…………………………………..


                                                     šTHE ENDœ

                                                                                               

                                                                                                         

Kembali pulang..



Oleh: El-Nisa
Djogja,14 Januari 2009

                Kota kecil ini adalah kota kelahiran seorang Kanzun El-Jazira yang biasa di panggil dengan Elza.Seorang anak yang tak pernah mengenal kata putus asa dalam hidupnya.Di Kota kecil ini pula,ia hidup dengan seorang ayah dan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.Di samping sekolah, ia pun membantu ayahnya yang hanya seorang tukang becak dengan berjualan nasi bungkus di emperan stasiun tugu setiap sore.
"Yah,Elza berangkat dulu..”pamit Elza ketika ia hendak menjua nasi-nasinyayang telah selesai di bungkusnya.
“o,Iya nak,hati-hati di jalan ya…”Pesan ayahnya yang sedang membersihkan becaknya.Elza pun mencium tangan ayahnya
“assalammu’alaikum”
“Wa’alaikum ssalam,nak”.Elzapun mengkayuh sepeda buntutnya menjauhi rumah kecil yang ia tinggali.
***

“Elza,5 bungkus ya…” pinta seorang ibu –ibu yang telah menjadi pelanggannya sejak ½ tahun yang lalu.
“nih bu’ nasinya, hm…sore ini ibu mau kemana?Kok rapi banget?”Elza pun membuka pembicaraan.
“Ibu mau ke Solo,hm…kamu mau nitip apa?”.Elza hanya menggeleng.
“Makasih Bu..”kata Elza malu-malu,Ibu itupun hanya tersenyum.
“ya sudah,kalau begitu,Ibu duluan ya..”Elza hanya mengangguk dan tersenyum.
“Assalammu’alaikum..”pamit ibu itu
“Wa’alaikumsalam”Elza hanya memandangi punggung ibu itu hingga tenggelam di tikungan.Sedikit kemudian Ia pun menunduk.
“Andai itu ibuku…”gumamnya

Djogja 30 Mei 2005
Pagi ini,mendung menyelimuti Djogja.Angin pun tak ingin kalah dengan mendung,dan dengan kuatnya ia menampar pepohonan di sepanjang jalan.
“Elza…ayah mana?” Tanya seorang wanita paruh baya kepada anaknya
“ayah ke toko bu”terang Elza
“ke toko emas kita?” ibu masih meminta keterangan yang jelas.
Elza hanya menanggapinya dengan anggukan,karena ia sedang sibuk dengan novelnya.Ibupun mendekati putrid pertamanya.
“Elza,kamu jaga adik kamu ya! Ibu mau pergi sebentar.”pamit ibunya.Seketika itu,Elzapun menutup novelnya.
“Ibu mau kemana? Mau nyusul ayah?”Tanya Elza beruntun,Ibu hanya menggeleng.
“Ibu ada janji dengan klien didaerah Klaten.”terangnya
“Hah!!! Klaten?! Bu,cuaca lagi mendung,ntar kalau terjadi apa-apa gimana?”Tanya Elza resah
“ga akan terjadi apa-apa sayang,yakin sama ibu”.Ibu pun mencoba meyakinkan putrinya
“Tapi Bu..”
“Percaya sama ibu,lagipula Klaten hanya setengah jam dari Djogja”.Putus ibu.’OK!!sekarang kamu jaga adek kamu ya,Ibu mau pergi sebentar,Assalamu’alaikum.. “pamit ibu
“Wa’alaikumussalam”jawab Elza
Setelah seperempat jam berlalu,telp rumah Elzapun bordering
“Halo…iya ini dikediaman Pak Rudi,ada apa ya Pa?
Apa?toko Emas terbakar?Kok bisa Pak? Astagirullah…tersambar petir ….iya pa’ …iya ..terimakasih ya pa’.Wa’alikumssalam”.Sambugnan pun terputus.Elza pun mencoba menenangkan hatinya.Sedetik kemudian ia pun memencet beberapa angka dengan Hp nya.
“Halo…bu…toko emas kita kebakaran bu…Alhamdulillah ayah selamat.Sekarang di rumah sakit,”
 “ibu segera kesana nak,”
 Setelah menutup telpon, Elza pun kebingungan dan resah menunggu ibunya yang akan kembali.2 Jam telah berlalu,namun ibu Elza pun tak kunjung tiba.
Elza telah menghubunginya berkali-kali namun jaringan selalu sibuk.Hingga akhirnya ia pun memutuskan pergi dengan adiknya menuju rumah sakit tanpa ibunya.
Sesampainya di rumah sakit elza yang saat itu masih duduk di bangkuSMP kelas 2 hanya dapat memandang ayahnya yang sedang berbaring dengan mata tertutup.
“Mba..itu ayah …ayah…”Ratih adik Elza yang baru masuk TK pun menangis melihat keadaan sang ayah.Elza hanya bisa mendekapnya dalam pelukannya.
“Adik jangan nangis,ayah pasti sembuh koq…”kata Elza yang mencoba untuk menenangkan adiknya.Sambil menunggu ayahnya,Elza pun mengajak Ratih untuk menunggu diruang tunggu berfasilitas televise yang kebetulan sedang menyiarkan berita. Di tempat itu pula mata Elza pun menerawang jauh,hingga suara bising di sekiternya tak lagi di hiraukannya.Namun sebuah tarikan kecil dari Ratih membuyarkan semua lamunannya “Mba…itu kaya’ ibu mba…”
“Mana..?”Elzapun telingukanmelihat pintu rumah sakit
“itu mba….di TV…”sejurus kemudian mata Elzapun terpaku melihat sebuah kecelakaan kereta api jurusan Solo-Djogja.Dilihatnya seoarang ibu yang terkapar dan berluuran darah mengenakan baju persis yang dikenakan ibunya saatberangkat ke Klaten.
“Mbak…Mbak…udah malem mbak…”lamunan Elza pun buyar oleh tepukan di bahu penjaga stasiun.
“E..pak satpam ada apa pa?”
“ini sudah malam,kamu ndak pulang? Elzapun membereskan jualannya yang belum terjual.
“E..mbak, saya boleh beli nasinya gak ?,”Elza pun tersenyum sambil mengambil dua bungkus nasi dan diberikannya kepada pak satpam itu.
“ini buat bapak, uangnya disimpan saja ,”
“bener nih ?,” Elza mengangguk
“makasih ya..semoga  Allah selalu melindungi orang sebaik kamu nak,”doa pak satpam
“Amienn,”Elza pun berlalu pulang.
***
“assalamu alikum..,”salam Elza sesampainya diambng pintu
“waalikum salam mba..,”Ratih berlari menuju kakaknya. “mba... ayah belum pulang.. Ratih takut terjadi apa-apa”
“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa dik, sekarang kamu tidur ya, besok kan sekolah..” Ratih pun hanya mengangguk dan menuruti permintaan kakaknya.
Malam itu juga, Elza pun menunaikan shalat tahajjud beserta dzikir dan doa.
                Tuhan…
                Hidup dan matiku adalah kuasa-Mu
Mimpi dan nyataku adalah ridho-Mu
Jatuh dan bangnku adalah cobaan-Mu
Aku tlah berusaha berjalan selurus mungkin
Namun aku tak lupa
Bahwa Kau-lah sang Penentu
Dan kini aku tlah pasrah dalam kuasa-Mu tuk Kau tentukan lagi takdirku
Hingga mentari kembali menyapaku
***
Subuh menyapa..., embunpun masih temani dedaunan yang enggan tuk bergerak jika tak disentuh oleh angin. Mentari pun masih enggan untuk menghangatkan dunia. Keadaan yang tenang itu tak seperti hati Elza yang resah karena ayahnya belum juga kembali sejak kerja kemarin sore.
“ mba, ayh udah datang ya?”Elza pun menghampiri adiknya yang telah mengenakan seragam merah putih.
“belum, mungkin sebentar lagi ayah akan pulang, sekarang Ratih makan terus barangkat sekolah ya..” Elza pun menggandeng Ratih menuju ke meja makan. Satu jam telah berlalu, Ratih pun telah berangkat sekolah, kini Elza memutuskan unutk tidak masuk sekolah dan memilih untuk berjualan.
                Stasiun Tugu…
“Elza !! kamu koq  ga’ sekolah ?” kepala elza pun mendongak  dan mendapatkan seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depannya  yang tak lain adalah  pelangganya yang baru pulang dari Solo                          
“ibu kamu mana ?”
“ibu saya meninggal “
“kalau ibu boleh tau,siapa nama ayah kamu ? insyaallah jika ibu bisa membantu akan ibu bantu “jelasnya
“namanya  pak Rudi Santoso”ibu pun terlihat berfikir
“Rudi? Pak Rudi yang punya toko emas itu kan ? Elza manganggik
“tapi sejak  4 tahun yang lalu tokokami terbakar ,dan kami terpaksa pindah rumah  dikarenakan kita tidak puny uang lagi buat ganti rugi “
“ ibu paham Elza…e..mending kamu pulang  sekarang terus belajar…o,iya  ini ibu punya sesuatu buat kamu .”pedagang itu  pun  menyodorkan  sebuah bingkisan pada Elza
“ini apa bu’….ga’ usah repot-repot.”
Sudah terima   saja, sekarang kamu pulang, anggap saja ibu sudah membelinya.” Kata sang pelanggan sambil menyodorkan uang dua ratus ribu ,Elza pun menyalami tangan ibu itu                                         
“terima kasih ibu “
“iya nak,sekarang kamu pulang yah..”akhirnya Elza pun menuruti perintah ibu paruh baya itu.
Sesampainya Elza di depan rumahnya, ia pun heran dengan sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Sejurus ia pun memandang rumahnya yang tertup,akhirnya ia pun mengayunkan langkah menuju rumahnya , terlihat seorang lelaki berjes yang ssedang duduk di atas kursi kayu.
“Assalamualaikum..,”Elza memberanikan diri member salam .  laki-laki itupun memandangnya
“waalikum salam..,”mata Elza langsung tertuju pada pintu dapur. Terlihat Ayanhnya yang tersenyum padanya.
“Ayah !!!,”Elza berlari dan memeluk Ayahnyatangisnya pun tak tertahankan hingga akhirnya kedua pipinya terbasahi oleh tangisannya
“Ayah dari mana ? Elza takut terjadi apa-apa dengan Ayah..”  Ayanhnya hanya tersenyum.  Sedetik kemudia Elza pun menuruti isyarat Ayanhnya untuk duduk.
“kamu ingat  dengan beliau ?,”Tanya Ayahnya sambil menunjuk laki-laki berjas yang duduk diddepannya, Elza menggeleng
“ini om Ferdi, teman bisnis Ayah empat tahun yang lalu,”
“o..om Ferdi ?!,”Elza pun teringat saat om Ferdi member hadiah ultah lima tahun yang lalu
“emang ada apa ya..koq om bisa ketemu Ayah lagi ??,”
“memang seorang seperti Ayahmu tidak pernah melupakn trik-trik dalm bisnis,”Elza pun bingung tak mengerti
“gara-gara Ayahmu, kemarin om bisa mempertahankan kantor om yang hampir kena sita sama perusahaan perak,”

“jadi, sebagai tanda terima kasih om..insya Allah om akan membantu menebus rumah kalian dan kalau Ayahmu mau kami bisa bekerja sama kembal..,”terang Om Ferdi yang membuat Elza tersentak.  Sejurus ia memandang Ayahnya yang tersenyum padanya.  Kembali ia menitikan air mata harunya.Ya Allah terima kasih…
The End...

Demi Cita....Ku tinggalkan Paguntaka



Oleh: Nurul Hidayah Sidar

Hatiku galau.  Senang, sedih, bahagia, pun duka bercampur jadi satu.  Betapa sangat berat hatiku meninggalkan tanah kelahiran tercinta ini.  Tempat ku lahir dan dibesarkan disalah satu  pulau terkaya yang dimiliki Indonesia, Tarakan Paguntaka.  Pun orang-orang yang hidup bersamaku didalamnya.  Sungguh berat  rasanya perpisahan ini
“ Udah bun, jangan nangis mulu dong,” kuulurkan tissue pada Bunda yang duduk disampingku
“kalau kamu diposisi Bunda juga bakal kaya’ gini..gimana sich rasanya bakal ditinggalain anak! Cewek satu-satunya lagi..hu..,”Bunda kembali terisak.
“gimana dong Yah? ,”
Ayah hanya mengulum senyum.  Kukira beliau merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Bunda.
“tapikan Yaya Cuma sebentar Bunda,”kucoba kembali berdalih
“sayang, kuliah diluar negeri butuh waktu yang tidak sebentar,”
Aku terdiam.  Apakah aku salah mengambil keputusan?? ah..ku kira tidak, aku sudah memikirkannya matang-matang.  Menerima Beasiswa,  untuk kuliah di negeri Firaun.  Lagipula aku berjuang  keras mendapatkannya.
Pada awalnya keluargaku tidak keberatan.  Malah kakak laki-lakiku yang diSumatera itupun mendukung sepenuhnya kepergianku meninggalkan Bumi Paguntaka, tanah kelahiran tercinta.
“apa  sih yang nggak buat ilmu, demikian alasannya yang semakin membulatkan tekadku..
“Bunda, bukan maksud Yaya mau ninggalin Bunda..Bunda ngertikan..??,”
“Iya, Bunda ngerti..Bunda cuma pengen nangis aja, boleh kan,??”
Kuulurkan tissue untuk yang kesekian kalinya.  Bunda, andai kau tahu betapa ku menyayngimu.
“nak, check-in sekarang..??,” Tanya Ayah kemudian
“Jam keberangkatan masih sejam lagi Yah, lebih baik kita sholat Asar sekarang,”
Kami bertigapun menunaikan sholat Ashar dimushola Bandara Juwata.  Bunda sudah agak tenang.  Kulihat mata sayunya yang sedikit membengkak
“Bun..Bunda benar-benar ridhokan Yaya kuliah di Mesir..,”tanyaku pelan.  Sebenarnya aku tak ingin mengungkit pertanyaan ini lagi.  Tapi hatiku belum tenang.  Aku ingin kepastian dari Bundaku sayang.
“kalau dibilang ridho, sudah tentu Bunda ridho, toh Yaya ingin menuntut ilmu.  Tapi Bunda belum siap aja..ntar Bunda nyampe dirumah, Bunda gak liat putri cerewet Bunda lagi..,” pelan Bunda berkata
“sayang..nuntut ilmu juga bisa disini..,”lanjut beliau lebih pelan lagi.
“Bun..,”tegur Ayah
Aku menangkap nada kecewa Bunda.  Entah, sepertinya Beliau bimbang melepaskanku.  Atau mungkin Bunda masih membutuhkanku..
“Bun..bukannya Yaya tidak ingin kuliah disini, Yaya ingin pengalaman lebih, lebih banyak teman, merasakan alam pendidikan yang berbeda dari yang selama ini Yaya tahu..,”
“yang Yaya katakan benar Bun, kalau anak melakukan suatu yang baik, sebagai orang tua kita harus mendukungnya..,”
“iya, Bunda ngalah. Bunda bukan bermaksud menghalangi Yaya kuliah di Mesir, hidup mandiri dinegeri orang..Bunda bukan bermaksud seperti itu, Bunda Cuma..hu..hu..,”Bunda kembali terisak dipelukanku,Bundaku cinta,Bundaku sayang
Dadaku sesak,mataku panas.  Kalau bukan karena ingin menunjukkan ketegaranku didepan Bunda, tentu aku sudah menangis serta.  Tapi aku sedikt lega, ternyata Bunda ikhlas dan mendukungku sepenuhnya.  Teringat dirumah, setiap kutanyakan perihal ini pada Bunda, apakah Bunda setuju dengan keberangkatanku atau tidak, Bunda hanya diam tidak menjawab.  Sampai akhirnyabeliau bersedia menemaniku kebandara ini dengan sedikit paksaan Ayah.  Ah, entahlah
“nak, sepuluh menit lagi, sebaiknya kamu masuk keruang tunggu sekarang,”saran Ayah
Berat kuberdiri.  Kuambil tangan kasar Ayah dan menciumnya.  Ayahku, pejuang hidupku.
“sampai di Soekarno-Hatta, segera telepon Ayah, setiap transit di wilayah manapun, sempatkan untuk menelpon kerumah..”
“Iya Yah, Bun..Yaya pamit..doain Yaya Bun..,”kucium tangan Bunda dengan khidmat.  Tangan yang membesarkanku dengan penuh cinta dan kasih, hingga kubesar seperti ini.
“hati-hati sayang, doa Bunda selalu bersamamu, walau Bunda jauh dari Yaya, Bunda kan selalu  memantau dan menjaga Yaya..,”
 Bunda mencium kedua mataku. Ahh.. aku harus kuat.  Kulepaskan pelukan hangat Bunda.  Sebuah koper besar menemaniku keruang tunggu penumpang.  Beberapa menit kemudian, setelah check-out, sebuah bus mini membawaku dan penumpang lainnya menuju badan pesawat.
Mataku panas.  Tak kuat menahan air mata yang sedari tadi hendak keluar.  Bandara Juwata saksi bisu perpisahanku dengan kedua orangtuaku  terkasih.  Pesawat semakin meninggi..meninggalkan tanah kelahiranku, Tarakan Paguntaka.  aku hanya pergi sekejap, sebentar saja..aku kan segera kembali setelah meraih mimpi dan citaku.  Paguntaka, tunggulah daku….

 ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,






Bersama sedih



Oleh: Siska Nigtyas Prabasari 

Ketakutan ini telah menjadi sebagian dari hidupku. Kemanakah ku harus melangkahkan kaki ini ? tanpa arah yang jelas, tanpa tujuan yang pasti.  Inilah aku, aku yang hidup dalam kebimbangan.
Kesendirian, kesunyian kini telah menjadi teman akrabku.  Entah apa yang terjadi..
“hey Key..tumben datang cepat, da angina pa nih ?,”
“ye..datang pagi salah, datang siang salah, trus aku mesti telat mulu ?,”
“key..don’t ngerep gitu dong!!take it easy,”
Aku hanya diam mendengar ocehan mereka.  Ya Allah what should I do ?andaikan mereka dapat mendengarkan suara hatiku..andaikan  mereka dapat mendengarkan tangisan dan teriakanku.
“key..jam kosong nih, cabut yuk!!,”
“kemana  ?,”tanyaku
“udah..ikut aja !,”
Hari-hari ku kuhabiskan bersama mereka, bahagiaku terukir indah bersama eman-temanku.
“Key , kamu kenapa sih ?ga biasanya kamu  diem gini !Cerita donk kalo gi ada masalah !” tegas Zena.
Memang… hanya Zena yang ngerti kesedihanku.Namun hanya milikku dang a akan penah kuhabiskan kepada teman-temanku.
“makasih Zen.I haven’t matter.Aku Cuma ga enak badan aja!”
Terduduk aku dalam keputusasaan ,menangis dalam diam di suatu persimpangan jalan.Mencari dalam kerumunan,rasa resah dan gelisah merayap masuk ke dalm diriku.Kakiku lelah letih tenaga terkuras habis,namun tak kutemukan bayangan mereka dimanapun.
Ma...pa…Kenapa harus aku ?
PRAANK…Sudah berpuluh-puluh piring karenanya.
Aku pun beranjak dari tempay tidurku, kuayunkan langkahku menuju kamar orang tuaku.
Krrekk…kubuka pintu itu, pelan tapi pasti.
PLAAKKKK…Tangan itu mengahantam keras wajah mamaku.
“Papaa…”Ucapku pilu.
“Keyla..!!!
aku tidak sanggup melihat ini terus-terusan.  Hatiku hancur.
“kenapa mama dan papa nggak pernah bisa ngertiin Keyla ? keyla benci  mama papa ! keyla benci !!!,”
Aku bergegas meninggalkan rumah, tak sanggup bertahan dengan semua ini
“Zen, dimana kamu ? ,”
“da dirumah Key, mang ada apa ? main aja kesini !!,”
Ku tancap gas mobilku, melaju menuju rumah Zena.
Kutangkap bayangan lembut seorang wanita setengah baya duduk sambil mengusap rambut Zena penuh kasih sayang .Seketika kuingat akan pahlawan hidupku di rumah .Tapi kini semua telah berubah tak seperti yang kuharapkan.
“Mama…Ucapku lirih.
“Hey,Key!Kamu udah dating?”Sapa Zena.
“Selamat siang tante!”Sapa ku kepada Tante Elfa,mama Zena.
“Keyla,sudah lama kamu gak main kesini.Gimana kabar kamu?”Tanya Tante Elfa seketika.
“Alhamdullillah baikTante.Tan…Keyla boleh ga nginep disini beberapa hari?”
“Apa Key?Kamu mau nginep di rumahku?Apa Aku gak salah denger?”Ucap Zena kaget.
“Gak,koq kamu gak salah denger.”
“Keyla,boleh nginep disini,sekallian nemenin Zen.”Terang Tante Elfa.
“Makasih Tan.”
Kurasakan kedamaian di rumah itu.Meskipunku tahu,Zena sudah tidak punya Ayah.Ku sadari seharusnya ku bersyukur,namun waktu telah mengubah segalanya.
“Key, aku tahu kamu lagi ada masala.”Ucap Zena tiba-tiba.
Tak sanggup ku tahan asaku.Begitu dalam penderitaan ku.
“Zenkamu bener.Aku memang lagi ada masalah.Aku rasa rumah yangmenjadi tempat berteduh sudah berubah menjadi neraka.Mereka selalu bertengkar.Aku sudah tidak tahan.”
“Key..gak seharusnya kamu lari dari rumah.Bagaimabnapun juga,mereka adalah orngtuamu.”
Andai saja aku cukup rendah sehingga dapat bertabya pada pepohonan.Andai saja aku cukup tingi untuk menggapai mentari,untuk bertanya dan mengambil keputusan apa  yang harus kulakukan. Mungkin benar apa kata Zena,aku harus pulang. Aku tak boleh lari dari masalah lagi.
“zen makasih buat semuanya !, kurasa yang kulakukan sekarang hanya menambah masalah untuk keluargaku”
“key..aku kan membantumu kapanpun kamu butuh,”
Ku berjalan menelusuri waktu.  Dalam pikirankuhanya memreka yang tersisa..mama..papa..apa kabar kalian ?
Sesampaiku digerbang depan rumahku.  Kuberanikan diri tuk memasukinya.  Namuntak seperti yang kubayangkan.  Suasana itu begitu asing.  Kemana kedua orang tuaku ? kemana mereka ?beribu kemungkinan bermain dibenakku.  Untuk apa aku pulang kalau mereka tak ada ? aku mulai terisak.  Kesendirian menyelimutiku.
“maaf dek… ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba suara itu terdengar tajam di telingaku. Sesosok    laki-laki yang kurang lebih berumur 20 tahun itu mengejutkan diriku dari seluruh gerak-geriknya tak satupun yang aku kenali.
“Hallo… apa ada yang bisa saya bantu”Tanya bapak itu kembali
“Oh…maaf, Bapak siapa ya?”
“Saya…penghuni  rumah ini dek, apakah  ada yang bisa saya bantu?” ucap sekali lagi. 
“Bapak  penghuni rumah ini???” tanyaku tegas.” Iya, memangnya adek ada perlu apa sama penghuni rumah ini ?”. Pak bukannya penghuni rumah ini Bp Raihan dan Ny.Moza?
“o… maaf dek, kami disini dua hari yang lalu , penghuni sebelumnya telah pergi, karena awalnya rumah ini disita untuk melunasi hutang-hutang perusahaan.
      Seberkas harapan yang tersirat seolah memberi  kekuatan bagi jiwa  namun kini hilang sirna…
 “Tuhan what should I do?”…
Sirna sudah semua impian, ketika tubuhku remuk hatiku hancur bersamaan dengan datangnya  cobaan ini. Kini diriku tinggal sebatang kara. Ku  coba tuk  hubungi orang tuaku, namun… jaringan ponsel mereka selalu sibuk .  dan akhirnya tinggalah aku sendiri..bersama sepi.


Senja yang Indah, Melukis wajah Ummi..



Oleh: Maryam Afifah

Sejumput asa menggumpal didada, ada relung hati yang dirindu,  saat pagi menyapa sang mentari, saat burung-burung bernyanyi melantunkan nada yang indah, saat dunia bahagia karena cerahnya sang surya.
Trap..trap..trap..Disya menuruni tangga lantai dua, tempatnya menginap.sudah seminggu Dia meninggalkan Jakarta, kota kelahirannya.  Menembus awan, mencari jati diri.
Namanya Disya, gadis berjilbab yang duduk dikelas 1 SMA, sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang seniman muda berbakat.  Ini hari terakhir untuknya,  karena pameran yang diluncurkannya bersama dengan krunya didaerah pegunungan, telah berjalan dengan sukses.  Banyak lukisan, puisi pun novel-novelnya yang laris terjual. Masyarakat   setempatpun menyambutnya dengan baik.
Matahari mulai memainkan perannya, Disya sudah siap dengan koper, tas Ransel, dan mobilnya didepan gerbang sudah siap untuk dikendarai.  Tidak perlu berpikir panjang untuk meninggalkan tempat itu, ia pun melaju kencang mengejar sang angin.  Rasa tak sabar dihatinya untuk bertemu dengan sang Ummi yang menunggu..
Pemandangan sepanjang jalan membuatnya terlamun, teringat sang Ummi yang sedang kritis dirumah sakit.  Umminya memang sudah lima bualn dirawat dirumah sakit.  Gagal Ginjal yang sudah menyerang sang Ummi hingga fatal akhirnya dan ginjal itupun harus diangkat.  Sebenarnya Disya agak ragu untuk meluncurkan pameran dan pergi meninggalkan Umminya sendiri.  Tapi, sang Ummi tak mau menghalangi kesempatan anaknya untuk meraih impiannya.  Pun biaya yang dibutuhkan sangat banyak untuk berobat, apalagi sang Ummi harus sering-sering cuci darah.  Disya pun berangkat demi mendapatkan uang untukberobat sang Ummi.
Perjalanan masih panjang, memeng butuh waktu lama untuk kembali ke Ibu kota .  perjalanan itu melelahkan Disya.mobil yang melaju kencang, pohon-pohon yang bergerak semu, awan yang berjalan,  setia menemaninya melewati perjalanan panjang ini.
Kring..kring..kring..terdengar deringan Hp dari tas ransel milik Disya.ketika diangkat.  Terdengar sapaan salam kepadanya
“Assalamualiakum..,”
“waalikum salam..,”jawabnya pelan
“ dengan saudari Disya..?,”
“ya, ada apa?,”
“saya dari pihak RS Cipto Mangun Kusumo ingin memberitahu saudari bahwa Ibu anda sudah harus segera cuci darah.  Akan fatal akibatnya kalau hal ini terlambat dilakukan,”
“ehm..baik,  saya sedang dalam perjalanan ke Jakarta.  Insya Allah hari ini semua pembayaran akan saya lunasi.,”jawabnya tegar.
Perasaan Disya sangat gelisah, pandangannya memburamoleh sebutir air mata dipelupuk mata sayunya.  Dan perlahan jatuh menjadi percikan harapan agar waktu cepat berlalu.
 


Sesampainya disana, dilihatnya Umminya masih dalm keadaan tidak sadar.  Disya hanya mampu menatap Umminya.  Tanpa sapa, tanpa kata kalau dia telah sukses dalam pameran perdananya.  Tiba-tiba dia menangis, menatap wajah pucat sang Ummi yang terbaring lemah tak berdaya.  Dengan sayang diusapnya kening Umminya
“Ummi, Disya datang, maafkan Disya karena Disya lama kembali.  Seperti yang Ummi mau Disya sudah mendapatkan apa yang Disya mau.  Ummi buka mata Ummi (menangis) Disya punya sebuah lukisan khusus untuk Ummi,”
Disya meneteskan air mata rindunya.  Ia hanya bisa berharap dan berharap.
“Ummi..,”
Disya tak tahu apa yang terjadi, namun saat dia mengusap kening Umminya  semua terasa dingin.  Dengan segera dia memanggil Dokter.
Ya Allah, aku tak pernah meminta angin tuk menghempas gelisah ini.  Kubiarkan dia berlalu..tapi mengapa?? Tiba-tiba menyesakkan dadaku, ku tak bisa menahannya.  Perasaanku terluka, desah Disya dalam hati.
Beberapa jam Disya menunggu, wajahnya memucat.  Tak lama tubuh mungilnya trgeletak.  Jatuh.
 


Kepalanya masih pusing.  Matanya terasa berat.  Tapi dia ingin mencari dokter yang menangani Umminya.  Dan ketika dia memasuki ruangan tempat dimana sang Ummi dirawat
“Ummi..ya Allah..,”didapatnya raga Umminya yang telah terbungkus kafan putih.  Umminya telah berpulang kehadirat-Nya.  Disya terisak, dia belum percaya secepat ini dia harus kehilangan sang Ummi untuk selamanya.
 


Senja indah menjadi saksi perginya Ummi tersayang.  Menjadi sejarah akan akhir hidupnya..
Disyapun pulang.  Isaknya belum berhenti.  Sebentar kemudian dia menengadah kelangit.  Senja yang indah melukis wajah Ummi.  Diapun tersadar,  Umminya yang telah tiada namun kan selalu menemaninya.  Ketika senja yang indah. Bagaiakan bunyinya detak jarum, jam suara itupun sangat terasa.  Disya, dan apa yang ia impikan kini telah ia capai.  Mimpinya menjadi seorang seniman terkenal.  Karyanya yang dikagumi orang-orang.  Namun apa artinya, jika lukisan dengan raut wajah sang Ummi, yang semula hendak dia berikan untuk Ummi.  Takkan pernah bisa lagi untuk dia berikan.  Namun kini wajah Ummi telah terlukis oleh senja yang indah.

 The End--